
Main doubles kelihatannya lebih santai karena court dibagi berdua. Tinggal jaga sisi masing-masing, pukul bola yang datang, lalu berharap partner siap kalau ada bola yang lolos. Kenyataannya? Nggak sesimpel itu. Dalam permainan doubles, kamu bukan cuma perlu memikirkan pukulan sendiri, tapi juga posisi partner, ruang kosong di court, komunikasi, sampai siapa yang seharusnya mengambil bola.
Kadang pukulan sudah bagus, tapi poin tetap hilang gara-gara dua pemain sama-sama mengejar bola yang sama. Atau malah kebalikannya, yaitu dua-duanya mengira partner yang ambil, akhirnya bola lewat begitu saja. Beberapa kesalahan memang sering terjadi, terutama kalau baru mulai rutin bermain bersama partner. Kabar baiknya, banyak di antaranya bisa diperbaiki lewat latihan dan komunikasi yang lebih konsisten. Yuk, cek apa saja kesalahannya!
Kenapa Main Doubles Butuh Kerja Sama yang Lebih Rapi?
Kalau main singles, hampir semua bola di sisi court kamu jelas menjadi tanggung jawab sendiri. Di doubles, situasinya berbeda. Ada dua pemain yang harus bergerak sebagai satu tim. Artinya, keputusan kecil seperti maju ke net, mundur ke baseline, mengambil bola di tengah, atau membiarkan partner melakukan pukulan bisa memengaruhi posisi keduanya. Makanya, partner doubles yang bagus bukan selalu dua pemain dengan pukulan paling keras. Kadang justru pasangan yang komunikasinya lebih rapi dan tahu kapan harus bergerak bersama bisa terasa lebih sulit dihadapi.
Jadi kalau permainan doubles masih terasa berantakan, belum tentu forehand atau backhand-mu yang jadi masalah. Bisa jadi kerja samanya yang perlu dirapikan.
Kesalahan Saat Bermain Tenis Doubles yang Sering Terjadi
Mulai dari komunikasi sampai posisi di court, berikut beberapa kesalahan saat bermain tenis doubles yang sering bikin poin lepas.
1. Jarang Komunikasi dengan Partner
Ini mungkin salah satu kesalahan saat bermain tenis doubles yang paling gampang terjadi. Masuk court bareng, tapi sepanjang game hampir nggak ada komunikasi. Padahal, komunikasi sederhana seperti “mine”, “yours”, “switch”, atau sekadar memberi tahu arah serve bisa membantu partner membaca situasi lebih cepat.
Komunikasi juga nggak harus dilakukan hanya saat bola sedang berjalan. Di sela poin, coba ngobrol sebentar soal pola permainan lawan. Misalnya, lawan sering return cross-court atau salah satu pemain lebih suka maju ke net. Nggak perlu rapat strategi lima menit setiap selesai satu poin. Cukup beberapa kata yang sama-sama dipahami. Karena partner kamu bisa membaca bola, tapi belum tentu bisa membaca pikiran.
2. Dua-Duanya Mengejar Bola yang Sama
Bola datang ke tengah. Kamu maju. Partner juga maju. Akhirnya raket hampir bertabrakan dan bola malah nggak ada yang masuk. Bola tengah memang sering bikin ragu karena berada di antara area dua pemain. Karena itu, sebelum pertandingan sebaiknya sudah ada pemahaman tentang siapa yang lebih siap mengambil bola dalam situasi tertentu. Komunikasi tetap jadi kuncinya.
Kalau salah satu pemain sudah mengambil bola, partner juga perlu cepat menyesuaikan posisi untuk menutup area yang terbuka. Jangan sampai satu bola dikejar berdua, sementara separuh court lainnya kosong.
3. Terlalu Fokus Menjaga “Sisi Sendiri”
“Ini sisi kanan aku, sisi kiri kamu.” Pembagian tersebut memang membantu sebagai posisi awal, tapi doubles nggak berarti kamu harus berdiri di satu jalur yang sama sepanjang pertandingan. Bola terus bergerak dan posisi pemain juga perlu ikut menyesuaikan. Kalau partner bergerak jauh ke satu sisi untuk mengejar bola, kamu mungkin perlu bergeser untuk membantu menutup ruang yang ditinggalkan.
Sebaliknya, kalau kamu maju ke net, partner perlu tahu area mana yang sekarang harus lebih diperhatikan. Anggap saja posisi doubles seperti bergerak bersama. Bukan dua pemain singles yang kebetulan berada di court yang sama.
4. Berdiri Terlalu Statis
Sudah menemukan posisi nyaman, lalu berdiri di sana menunggu bola datang. Masalahnya, bola tenis jarang mau bekerja sama. Dalam doubles, posisi perlu terus disesuaikan dengan arah bola dan posisi lawan. Kalau bola bergerak ke sisi kiri, kamu dan partner biasanya juga perlu melakukan penyesuaian. Kalau lawan mendapat bola pendek dan terlihat akan menyerang, posisi juga mungkin perlu berubah.
Nggak perlu bergerak berlebihan sampai malah kehilangan keseimbangan. Yang penting jangan sampai kaki seperti ditanam di satu titik. Doubles tetap butuh footwork.
5. Takut Maju ke Net
Buat pemain yang masih nyaman bermain dari baseline, maju ke net kadang terasa sedikit menegangkan. Bola datang lebih cepat. Waktu bereaksi lebih pendek. Kalau salah volley, rasanya juga kelihatan banget.
Tapi dalam doubles, area net punya peran penting dalam permainan. Kalau selalu memilih bertahan jauh di belakang, lawan bisa mendapat lebih banyak ruang untuk membangun poin. Mulailah pelan-pelan. Latih volley, belajar membaca bola, dan cari tahu kapan waktu yang nyaman untuk maju. Nggak perlu setiap bola langsung sprint ke net.
Tapi jangan juga sampai net cuma dikunjungi waktu berjabat tangan setelah match.
6. Terlalu Agresif Memotong Bola Partner
Sudah mulai pede di net, lalu setiap bola rasanya pengin dipotong. Nah, ini juga perlu dikontrol. Melakukan poach atau memotong bola bisa menjadi cara untuk memberi tekanan ke lawan. Tapi kalau dilakukan tanpa membaca situasi atau tanpa komunikasi dengan partner, area yang kamu tinggalkan bisa terbuka lebar. Belum lagi kalau ternyata partner sudah siap melakukan pukulan.
Akhirnya dua raket masuk ke satu bola lagi. Kalau ingin bermain lebih agresif di net, coba bangun pola bersama partner saat latihan. Biar gerakannya terasa seperti strategi, bukan refleks “wah ada bola, ambil ah.”
7. Nggak Menyesuaikan Posisi Setelah Serve atau Return
Serve masuk bukan berarti tugas selesai. Begitu juga return. Setelah melakukan pukulan pertama, segera pikirkan posisi berikutnya. Kalau serve kamu menghasilkan return yang lemah, mungkin ada kesempatan untuk mengambil posisi lebih agresif.
Sebaliknya, kalau return lawan cukup dalam dan menekan, jangan buru-buru memaksakan maju. Hal yang sama berlaku saat menerima serve. Setelah return, perhatikan posisi partner dan lawan. Jangan hanya berdiri menikmati hasil pukulan sendiri. Bolanya masih hidup. Poinnya belum selesai.
8. Terlalu Sering Menyalahkan Partner
Partner gagal volley satu kali. Double fault. Bola gampang malah keluar. Kesal sedikit mungkin wajar. Tapi kalau setiap kesalahan langsung dibalas dengan ekspresi kecewa, permainan satu tim bisa cepat kehilangan ritme. Ingat, doubles berarti menang dan kalah poin bersama.
Kalau partner melakukan kesalahan, reset dan lanjut ke poin berikutnya. Kalau kamu yang melakukan kesalahan, berlaku hal yang sama. Kadang kalimat sederhana seperti “nggak apa-apa, next point” jauh lebih berguna daripada membahas kesalahannya saat match masih berjalan.
Chemistry di doubles bukan cuma terlihat saat bikin winner. Tapi juga saat sama-sama bisa move on dari error.
Gimana Biar Main Doubles Lebih Kompak?
Nggak harus langsung punya strategi yang rumit. Mulai dari hal sederhana saat latihan. Biasakan komunikasi sebelum dan selama poin. Coba latihan cross-court supaya lebih terbiasa menjaga arah bola. Latih juga volley dan permainan di sekitar net, lalu sesekali simulasi poin seperti pertandingan sungguhan.
Yang nggak kalah penting, kenali karakter partner. Ada pemain yang nyaman mengambil bola tengah dengan forehand. Ada yang lebih agresif di net. Ada juga yang lebih percaya diri menjaga baseline. Semakin sering bermain bersama, biasanya pembagian peran akan terasa lebih natural.
Dan kalau masih beberapa kali salah komunikasi? Wajar. Yang penting bukan mencari partner yang nggak pernah melakukan kesalahan, tapi belajar memperbaiki permainan sebagai pasangan.
Sudah Makin Kompak? Coba Rasakan Atmosfer Pertandingannya
Kalau beberapa kesalahan saat bermain tenis doubles tadi mulai berkurang, komunikasi makin lancar, dan kamu sudah mulai memahami pola permainan partner, mungkin waktunya mencoba suasana yang berbeda dari fun match biasanya. FiberCreme Tennis Cup 2026 akan berlangsung pada 19–20 September 2026 di Ancol Tennis Warehouse (ATW), Jakarta. Turnamen ini menghadirkan kategori Women’s Doubles Team untuk level Upper Beginner, Low Intermediate, dan Intermediate, serta Women’s Doubles Individual untuk level Low Beginner.
Jadi, pemain dengan level permainan berbeda bisa memilih kategori yang paling sesuai dan mencoba merasakan atmosfer pertandingan bersama partner. FiberCreme Tennis Cup 2026 juga hadir sebagai bagian dari perayaan 9 tahun FiberCreme dengan semangat PLAY. FUEL. FEEL GOOD., sekaligus membawa olahraga dan komunitas sebagai bagian dari gaya hidup aktif.
Baca juga: Cari Turnamen Tenis di Jakarta September 2026? Yuk, Kenalan dengan FiberCreme Tennis Cup 2026
Partner Sudah Klik? Saatnya Turun ke Court!
Pada akhirnya, doubles bukan cuma soal siapa yang punya serve paling kencang atau forehand paling keras. Komunikasi, positioning, footwork, kemampuan membaca situasi, dan chemistry dengan partner juga punya peran besar.
Kalau masih sering berebut bola, lupa bergerak setelah serve, atau terlalu fokus menjaga sisi sendiri, nggak perlu langsung frustrasi. Jadikan itu bahan latihan berikutnya. Semakin sering bermain bersama, biasanya kamu dan partner juga semakin tahu kapan harus maju, kapan bergeser, dan siapa yang mengambil bola. Nah, kalau latihan sudah makin rutin dan partner doubles sudah klik, yuk, daftar FiberCreme Tennis Cup 2026!
Untuk informasi dan registrasi:
Dorthy: 0877-8433-9701
Albert: 0816-1110-656
Jangan lupa follow @fibercreme, @ancoltenniswrhouse, dan @infinitetournament di Instagram untuk mendapatkan update terbaru seputar event. Sekarang tinggal ajak partner latihan, rapikan komunikasi, dan kurangi satu per satu kesalahan saat bermain tenis doubles sebelum match day.
Let’s PLAY, FUEL, and FEEL GOOD di FiberCreme Tennis Cup 2026!





0 Komentar